Konflik Psikologis Anas
Oleh: Andika Asykar
Oleh: Andika Asykar
A. Pendahuluan
Terjadinya konflik dalam
setiap orang merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dihindarkan. Hal ini
terjadi karena di dunia ini memang bak sebuah mata uang yang punya sisi berbeda
disatu sisi ada hal-hal yang sejalan dengan keinginan kita dan disisi lain
ada yang berbeda sehingga menimbulkan
konflik psikologis dalam diri seseorang. Tentunya bahwa setiap orang yang hidup
pernah menghadapi konflik dalam dirinya, tak terkecuali seorang Anas Urbaningrum
Nazarudin sebagai salah
satu terdakwa dalam skandal Wisma Atlit
dan Hambalang tak henti-hentinya mengeluarkan ocehan yang menyeret Anas
Urbaningrum. Bahkan menurut Nazar, Anas adalah otak dari semuanya. Hal tersebut
tentunya membuat konflik yang dahsyat dalam diri Ketum Demokrat tersebut. Hal
tersebut mempunyai implikasi dengan banyaknya publik yang mempunyai pemahaman
bahwa Anas Urbaningrum adalah bos dari Nazar sehingga tak jarang membuat publik
banyak yang mencela dia.
Tak berhenti disitu
ekspresi publik untuk menunjukan kebenciannya pada Nazar, Angie dan terutama
Anas dapat ditunjukan pada hasil survey
dari beberapa lembaga survey menunjukan penurunan yang drastis. Tak
urung hal tersebut semakin menambah keruh friksi yang terjadi di internal
demokrat dan menuntut Ketumnya mundur dari jabatannya.
Ketika KPK memberitahukan
bahwa Anas Urbaningrum juga akan diperiksa sepertinya konflik psikologis Anas
Urbaningrum sudah mencapai batas kesabarannya sehingga dia mengeluarkan kalimat
yang tak biasa digunakan seorang politisi sekelas dia, dia menyebutkan bahwa “"Kalau
ada satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas,"
Selain itu dia juga menyebutkan bahwa “KPK sebenarnya tak perlu repot-repot
mengurus persoalan proyek tersebut. Karena asalnya itu kan dari ocehan-ocehan
yang tidak jelas, dari karangan-karangan yang tidak jelas," kata dia.
"Ngapain repot-repot." Hal tersebut dilontarkan oleh Anas di kantor
Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Jumat, 9
Maret 2012 (Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2012/03/09/063389120/3-Kali-Ekspose-Anas-Akan-Diperiksa-Soal-Hambalang diakses pada tanggal 10 Mei 2012)
Melihat hal tersebut penulis tertarik untuk untuk
menlakukan analisis sebenarnya apa yang terjadi dengan Anas Urbaningrum dan
Bagaimana konflik psikologis dari seorang Anas sehingga mengeluarkan pernyataan
yang membuat kontroversi?
B. Pembahasan
1. Pengertian konflik
Dahrendorf
(dalam
Jeong:2008:6), Dalam arti luas, konsep konflik telah ditarik dan
dipergunakan untuk menggambarkan setiap perselelisihan yang dihasilkan
oleh setiap
aspek dari situasi sosial Sedangkan
menurut Campbell (2006:157): konflik manusia mempunyai derajat kompleksitas dan
intensitas
yang dapat ditemui dalam individu, kelompok
dan negara-negara seluruh dunia. Konflik biasanya timbul ketika kedua belah pihak atau lebih mencapai tujuan
yang tidak kompatibel dan pada tahap berikutnya keduanya melakukan perjuangan
untuk mencapai tujuan dan saling mengalahkan. Potensi konflik akan meningkat
seiring dengan meningkatnya
partisipasi sosial dan perubahan budaya yang
tepat.Variasi budaya menyebabkan bervariasinya tingkatan dan bentuk konflik. (Sumber: Mata Kuliah Konflik dan Resolusi tantang Teori Konflik di
Magister Ilmu Politik UNDIP. Dosen Pengampu Dr.
ARI PRADHANAWATI,MS Diberikan pada 05/05/2012)
Konflik adalah pertentangan antara dua
pihak atau lebih, yang dapat terjadi antarindividu, antarkelompok kecil, bahkan
antarbangsa dan negara (Sarlito W. Sarwono, 1999). Merupakan bentuk
pertentangan, ketidaksepakatan, ketidakcocokan antara dua orang atau lebih,
antar kelompok orang, yang biasanya ditadai oleh kekerasan fisik (Wikipedia,
2007) (Sumber: Mata
Kuliah Psikologi Politik tentang Konflik
Dan Keamanan Internasional Jurusan Ilmu Pemerintahan UNDIP. Dosen Pengampu
Lusia Astrika, S.IP, M.Si)
Dapat dikatakan
bahwa konflik adalah kondisi yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan besar yang
saling bertentangan yang sumbernya berasal dari dalam diri manusia. Dalam diri
manusia itu mempunyai batin sehingga tatkala seseorang sudah memuncak
konfliknya terkadang bisa membuat seseorang mengeluarkan pernyataan dan bahkan
melakukan tindakan fisik ketika tak bisa mengontrol egonya.
2.
Analisis terhadap konflik
psikologis Anas Urbaningrum
Anas Urbaningrum adalah salah satu politisi terkenal
yang selama ini dikenal publik dengan bawaannya yang kalem, sopan dan santun.
Publik pastinya tak menyangka jikalau dia ikut disebut-sebut sebagai salah satu
aktor utama dalam skandal Wisma Atlit dan Hambalang. Tak kurang dari satu tahun
kasus ini berjalan Nazar yang menjadi koleganya ketika duduk mejadi kader
Partai Demokrat selalu menyeret namanya sebagai “Bos Besar” yang menjadi
sutradara dibalik semuanya.
Tak ayal hal tersebut membuat seorang Anas
mendapatkan tekanan yang sangat dahsyat dari media, publik, kader Demokrat dan
juga tentunya SBY. Meskipun seorang Anas
dikenal sabar dan santun, tetapi setiap manusia itu pasti ada batas
kesabarannya dalam menghadapi tekanan yang sangat besar. Akibat tekanan dari
luar yang begitu bertubi-tubi, secara psikologis membuat batin seorang Anas tak
kuat menampung sehingga meluapkan emosinya dengan mengeluarkan pernyataan
“Gantung di Monas” yang telah disebutkan sebelumnya. Berikut peta konflik
psikologis seorang Anas tentang makna dan tujuan pernyataan “Gantung di Monas”
tersebut:
Dapat dijelaskan
bahwa masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah hasil dari
interaksi manusia dengan sesamanya. Jika manusia tidak mampu memperbesar daya
penarik logika dan akal dan lebih banyak mengembangkan pikiran-pikiran yang
tidak dapat diterima oleh akal, maka yang muncul adalah konflik, baik konflik
yang berkaitan dengan dunia di luar dirinya maupun konflik yang berkaitan
dengan dirinya sendiri. Manusia kemudian mengalami stres, frustasi, takut, dan
sebagainya.
Itulah yang mungkin dihadapi oleh seorang Anas
sehingga dia mengeluarkan unek-uneknya pada
pihak-pihak yang selama ini menekan dirinya dalam skandal Wisma Atlit dan
Hambalang. Berikut analisis penulis dalam memvisualisasikan maksud Anas
Urbaningrum mengeluarkan pernyataan “Gantung di Monas”:
a.
Persepsi
Kata-kata
Anas tersebut mengandung makna bahwa dirinya ingin memberikan persepsi pada
publik dan media bahwa dirinya tidak menerima uang suap dari Wisma Atlit dan Hambalang.
Apalagi dalam budaya masyarakat Indonesia kata-kata sumpah seperti sumpah mati,
berani kesamber gledek dan siap digantung itu sudah menjadi hal yang jamak agar
membuat orang lain percaya bahwa orang tersebut tidak salah. Anas ingin
menunjukan dan memberikan tekanan pada publik dan khususnya media yang secara
eksplisit dikatakan Anas bahwa Partai Demokrat tak punya media sehingga selalu
disudutkan oleh media sehingga beberapa waktu lalu Partai Demokrat pernah
melaporkan Metro TV ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
b.
Konsolidasi
Maksud lain dari pernyataan Anas tersebut adalah Anas ingin membuktikan
pada kader Partai Demokrat bahwa dirinya berusaha melakukan counter atas
pemberitaan miring tentang dirinya. Hal inilah yang memang diinginkan oleh
kadernya semisal Ruhut yang mengatakan "Aku maunya Anas
ngomong tidak terlibat dengan Hambalang. Kalau terlibat krekk," (Sumber: www.rmol.com/Ruhut
-Saudaraku-Anas,-Legowolah.html diakses pada 10 Mei 2012)
Seperti yang sering ada
dalam setiap pemberitaan di setiap media bahwa karena kasus ini telah membuat
friksi dalam Partai Demokrat. Disatu sisi ada yang mengiginkan Anas mundur
seperti pernyataan yang dikutip dari salah satu Dewan Pembinanya, Hayono Isman
berikut ini, “Bagi saya, siapa pun dia, akan terhormat menyatakan mundur
mempunyai sikap ksatria. Daripada nanti diturunkan oleh partai” katanya di
Gedung Senayan DPR RI Rabu (02/05/2012)(Sumber:www.rmol.com/Hayono-Isman-Daripada-Diturunkan-Partai,-Lebih-Baik-Anas-Urbaningrum-Mundur-.html
diakses pada 10 Mei 2012).
Sedangkan disisi lain
banyak juga yang masih pro terhadap kepemimpinan Anas Urbaningrum dan kader
yang mendukung Anas akan berupaya penuh untuk melawan segala upaya politisasi
yang menyudutkan Anas Urbaningrum dan hal tersebut seperti penjelasan Ramadhan
Pohan bahwa ia akan melawan setiap upaya politisasi yang diarahkan kepada Ketua
Umum Anas Urbaningrum yang sengaja atau tak sengaja dilakukan sejumlah pihak.
"Kami tidak inginkan terjadi, katakanlah penyudutan ataupun penggiringan
isu yang menyudutkan. Kalau itu terjadi, sama saja mengkriminalisasi kader
kami. Kami akan melawan terhadap upaya penggiringan kriminalisasi yang
berdasarkan opini yang ditiupkan," kata Ramadhan (Sumber:www.metrotvnews.com/Ramadhan-Demokrat-akan-Lawan-Upaya-Politisasi-Anas.html
diakses pada 10 Mei 2012)
Pernyataan Anas inilah yang secara
implicit digunakan untuk melakukan konsolidasi dalam tubuh partainya dan
bersikap tegas pada kader-kader yang selama ini membelot darinya. Hal itu
ditunjukan pasca pernyataan “Gantung di Monas”, Anas melakukan bersih-bersih
dengan melakukan Rolling di komisi
DPR dan mencopot ketua fraksi Demokrat yaitu Jafar Hafsah.
c.
Konfirmasi
Pernyataan Anas ini juga
mempunyai makna bahwa secara implisit ingin memberikan konfirmasi dan ancaman
pada KPK dengan mengatakan “KPK sebenarnya tak perlu
repot-repot mengurus persoalan proyek tersebut. Karena asalnya itu kan dari
ocehan-ocehan yang tidak jelas, dari karangan-karangan yang tidak jelas,"
kata dia. "Ngapain repot-repot." Seperti kita ketahui bersama bahwa Anas
adalah ketua umum Partai Demokrat yang menguasai parlemen, perlu diingat bahwa
pemilihan pimpinan KPK itu tak lepas dari politik transaksional antara calon
pimpinan KPK dan Anggota komisi III yang notabene berasal dari partai politik.
Boleh jadi ketika Anas mengatakan hal ini mempunyai
maksud kalau sampai KPK berani memanggil Anas maka hati-hatilah Partai Demokrat
siap menggoyang para pimpinan KPK khususnya para pimpinan KPK yang sudah
melakukan politik transaksional dengan Partai Demokrat. Dan alhasil sampai sekarang
pun Anas aman dan belum dipanggil oleh KPK, meskipun kasus Nazar dalam Wisma
Atlit sudah diputus.
d.
Agresi
Agresi
inilah maksud implisit yang mungkin ingin disampaikan oleh Anas pada seseorang
yang berkantor diseberang Monas. Siapakah orang itu? Tak lain dan tak bukan
adalah “Sang Presiden” sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yaitu
Susilo Bambang Yudhoyono yang berdiam di Istana Merdeka. Dalam hal ini Anas
sepertinya ingin memperingatkan SBY bahwa janganlah sekali-sekali mengusik
kursi kepemimpinannya, jelas bahwa Anas bukanlah politisi gadungan yang hanya
seumur jagung di dalam Demokrat. Dari tahun 2005-2010, Anas menjadi tangan
kanan Hadi Utomo sebagai Ketum Partai Demokrat pada masa itu. Dia selalu
mengikuti Agenda Hadi Utomo hingga ke pelosok-pelosok daerah,
Melihat hal tersebut
jelas bahwa Anas bukanlah kader biasa karena tentunya dia sudah mengetahui “Kartu
Truf” Partai Demokrat, khususnya SBY dan
dinasti politiknya. Sebagai Sang Penentu, SBY menjadi sulit menentukan manakala
keputusan dan langkahnya bisa membahayakan diri sendiri (dan putranya),
membahayakan partai, dan menerjal-curamkan jalan menuju 2014. Memberi Anas
sanksi terlalu segera dan keras bisa seperti menepuk air di dulang terpercik
muka sendiri. Walhasil, Ketua Dewan Pembina yang terkenal sangat berhati-hati
itu kali ini merasa harus amat sangat berhati-hati dan keputusan pun tak kunjung
jatuh.
C.
Kesimpulan
Dari hal di atas dapat
ditarik kesimpulan umum yaitu bahwa konflik batin atau psikologis pasti pernah
dirasakan oleh semua manusia. Ada banyak hal yang kemudian diekspresikan oleh
seseorang ketika dia mengalami konflik psikologis tersebut misalnya bisa
mengeluarkan pernyataan yang eksplisit atau pun implisit yang ditujukan pada
pihak yang berkonflik.
D.
Daftar Pustaka
-Bernard, Raho. 2007. Teori Sosiologi Modern.
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
-Walgito,
Bimo. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Penerbit Andi
-http://www.tempo.co/read/news/2012/03/09/063389120/3-Kali-Ekspose-Anas-Akan-Diperiksa-Soal-Hambalang diakses pada tanggal 10 Mei 2012.)
-www.rmol.com/Hayono-Isman-Daripada-Diturunkan-Partai,-Lebih-Baik-Anas-Urbaningrum-Mundur-.html
diakses pada 10 Mei 2012.
-www.rmol.com/Ruhut -Saudaraku-Anas,-Legowolah.html
diakses pada 10 Mei 2012.
- www.metrotvnews.com/Ramadhan-Demokrat-akan-Lawan-Upaya-Politisasi-Anas.html
diakses pada tanggal 10 Mei 2012.
-http://benyahya.student.umm.ac.id/2010/07/09/teori-konflik/
diakses pada tanggal 10 Mei 2012.
-http://www.tempo.co/read/news/2012/03/09/063389120/3-Kali-Ekspose-Anas-Akan-Diperiksa-Soal-Hambalang diakses pada tanggal 10 Mei 2012.
-Mata Kuliah
Konflik dan Resolusi tantang Teori Konflik di Magister Ilmu Politik UNDIP.
Dosen Pengampu Dr. ARI
PRADHANAWATI,MS Diberikan pada 05/05/2012.
-Mata Kuliah Psikologi
Politik tentang Konflik Dan
Keamanan Internasional Jurusan Ilmu Pemerintahan UNDIP. Dosen Pengampu Lusia Astrika, S.IP, M.Si
Tidak ada komentar:
Posting Komentar