Sabtu, 01 Desember 2012

Konflik Psikologis Anas

Konflik Psikologis Anas
Oleh: Andika Asykar

       A.    Pendahuluan
Terjadinya konflik dalam setiap orang merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dihindarkan. Hal ini terjadi karena di dunia ini memang bak sebuah mata uang yang punya sisi berbeda disatu sisi ada hal-hal yang sejalan dengan keinginan kita dan disisi lain ada  yang berbeda sehingga menimbulkan konflik psikologis dalam diri seseorang. Tentunya bahwa setiap orang yang hidup pernah menghadapi konflik dalam dirinya, tak terkecuali seorang Anas Urbaningrum
Nazarudin sebagai salah satu terdakwa dalam  skandal Wisma Atlit dan Hambalang tak henti-hentinya mengeluarkan ocehan yang menyeret Anas Urbaningrum. Bahkan menurut Nazar, Anas adalah otak dari semuanya. Hal tersebut tentunya membuat konflik yang dahsyat dalam diri Ketum Demokrat tersebut. Hal tersebut mempunyai implikasi dengan banyaknya publik yang mempunyai pemahaman bahwa Anas Urbaningrum adalah bos dari Nazar sehingga tak jarang membuat publik banyak yang mencela dia.
Tak berhenti disitu ekspresi publik untuk menunjukan kebenciannya pada Nazar, Angie dan terutama Anas dapat ditunjukan pada hasil survey  dari beberapa lembaga survey menunjukan penurunan yang drastis. Tak urung hal tersebut semakin menambah keruh friksi yang terjadi di internal demokrat dan menuntut Ketumnya mundur dari jabatannya.
Ketika KPK memberitahukan bahwa Anas Urbaningrum juga akan diperiksa sepertinya konflik psikologis Anas Urbaningrum sudah mencapai batas kesabarannya sehingga dia mengeluarkan kalimat yang tak biasa digunakan seorang politisi sekelas dia, dia menyebutkan bahwa “"Kalau ada satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas," Selain itu dia juga menyebutkan bahwa “KPK sebenarnya tak perlu repot-repot mengurus persoalan proyek tersebut. Karena asalnya itu kan dari ocehan-ocehan yang tidak jelas, dari karangan-karangan yang tidak jelas," kata dia. "Ngapain repot-repot."  Hal tersebut dilontarkan oleh Anas di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Jumat, 9 Maret 2012 (Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2012/03/09/063389120/3-Kali-Ekspose-Anas-Akan-Diperiksa-Soal-Hambalang diakses pada tanggal 10 Mei 2012)
Melihat hal tersebut penulis tertarik untuk untuk menlakukan analisis sebenarnya apa yang terjadi dengan Anas Urbaningrum dan Bagaimana konflik psikologis dari seorang Anas sehingga mengeluarkan pernyataan yang membuat kontroversi?
      B.     Pembahasan
1.      Pengertian konflik
Dahrendorf (dalam Jeong:2008:6), Dalam arti luas, konsep konflik telah ditarik dan  dipergunakan untuk  menggambarkan setiap  perselelisihan yang dihasilkan oleh setiap aspek dari situasi sosial Sedangkan menurut Campbell (2006:157): konflik manusia mempunyai derajat kompleksitas dan  intensitas yang dapat ditemui dalam individu,  kelompok dan negara-negara seluruh dunia. Konflik biasanya timbul ketika  kedua belah pihak atau lebih mencapai tujuan yang tidak kompatibel dan pada tahap berikutnya keduanya melakukan perjuangan untuk mencapai tujuan dan saling mengalahkan. Potensi konflik akan meningkat seiring dengan meningkatnya partisipasi sosial dan perubahan budaya yang tepat.Variasi budaya menyebabkan bervariasinya tingkatan dan  bentuk konflik. (Sumber: Mata Kuliah Konflik dan Resolusi tantang Teori Konflik di Magister Ilmu Politik UNDIP. Dosen Pengampu Dr. ARI PRADHANAWATI,MS Diberikan pada 05/05/2012)
Konflik adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih, yang dapat terjadi antarindividu, antarkelompok kecil, bahkan antarbangsa dan negara (Sarlito W. Sarwono, 1999). Merupakan bentuk pertentangan, ketidaksepakatan, ketidakcocokan antara dua orang atau lebih, antar kelompok orang, yang biasanya ditadai oleh kekerasan fisik (Wikipedia, 2007) (Sumber: Mata Kuliah Psikologi Politik tentang Konflik Dan Keamanan Internasional Jurusan Ilmu Pemerintahan UNDIP. Dosen Pengampu Lusia Astrika, S.IP, M.Si)
Dapat dikatakan bahwa konflik adalah kondisi yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan besar yang saling bertentangan yang sumbernya berasal dari dalam diri manusia. Dalam diri manusia itu mempunyai batin sehingga tatkala seseorang sudah memuncak konfliknya terkadang bisa membuat seseorang mengeluarkan pernyataan dan bahkan melakukan tindakan fisik ketika tak bisa mengontrol egonya.
2.      Analisis terhadap konflik psikologis Anas Urbaningrum
Anas Urbaningrum adalah salah satu politisi terkenal yang selama ini dikenal publik dengan bawaannya yang kalem, sopan dan santun. Publik pastinya tak menyangka jikalau dia ikut disebut-sebut sebagai salah satu aktor utama dalam skandal Wisma Atlit dan Hambalang. Tak kurang dari satu tahun kasus ini berjalan Nazar yang menjadi koleganya ketika duduk mejadi kader Partai Demokrat selalu menyeret namanya sebagai “Bos Besar” yang menjadi sutradara dibalik semuanya.
Tak ayal hal tersebut membuat seorang Anas mendapatkan tekanan yang sangat dahsyat dari media, publik, kader Demokrat dan juga tentunya SBY.  Meskipun seorang Anas dikenal sabar dan santun, tetapi setiap manusia itu pasti ada batas kesabarannya dalam menghadapi tekanan yang sangat besar. Akibat tekanan dari luar yang begitu bertubi-tubi, secara psikologis membuat batin seorang Anas tak kuat menampung sehingga meluapkan emosinya dengan mengeluarkan pernyataan “Gantung di Monas” yang telah disebutkan sebelumnya. Berikut peta konflik psikologis seorang Anas tentang makna dan tujuan pernyataan “Gantung di Monas” tersebut:
          Dapat dijelaskan bahwa masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya. Jika manusia tidak mampu memperbesar daya penarik logika dan akal dan lebih banyak mengembangkan pikiran-pikiran yang tidak dapat diterima oleh akal, maka yang muncul adalah konflik, baik konflik yang berkaitan dengan dunia di luar dirinya maupun konflik yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Manusia kemudian mengalami stres, frustasi, takut, dan sebagainya.
Itulah yang mungkin dihadapi oleh seorang Anas sehingga dia mengeluarkan unek-uneknya pada pihak-pihak yang selama ini menekan dirinya dalam skandal Wisma Atlit dan Hambalang. Berikut analisis penulis dalam memvisualisasikan maksud Anas Urbaningrum mengeluarkan pernyataan “Gantung di Monas”:
      a.      Persepsi
            Kata-kata Anas tersebut mengandung makna bahwa dirinya ingin memberikan persepsi pada publik dan media bahwa dirinya tidak menerima uang suap dari Wisma Atlit dan Hambalang. Apalagi dalam budaya masyarakat Indonesia kata-kata sumpah seperti sumpah mati, berani kesamber gledek dan siap digantung itu sudah menjadi hal yang jamak agar membuat orang lain percaya bahwa orang tersebut tidak salah. Anas ingin menunjukan dan memberikan tekanan pada publik dan khususnya media yang secara eksplisit dikatakan Anas bahwa Partai Demokrat tak punya media sehingga selalu disudutkan oleh media sehingga beberapa waktu lalu Partai Demokrat pernah melaporkan Metro TV ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
      b.      Konsolidasi
Maksud lain dari pernyataan Anas tersebut adalah Anas ingin membuktikan pada kader Partai Demokrat bahwa dirinya berusaha melakukan counter atas pemberitaan miring tentang dirinya. Hal inilah yang memang diinginkan oleh kadernya semisal Ruhut yang mengatakan "Aku maunya Anas ngomong tidak terlibat dengan Hambalang. Kalau terlibat krekk," (Sumber: www.rmol.com/Ruhut -Saudaraku-Anas,-Legowolah.html diakses pada 10 Mei 2012)
Seperti yang sering ada dalam setiap pemberitaan di setiap media bahwa karena kasus ini telah membuat friksi dalam Partai Demokrat. Disatu sisi ada yang mengiginkan Anas mundur seperti pernyataan yang dikutip dari salah satu Dewan Pembinanya, Hayono Isman berikut ini, “Bagi saya, siapa pun dia, akan terhormat menyatakan mundur mempunyai sikap ksatria. Daripada nanti diturunkan oleh partai” katanya di Gedung Senayan DPR RI Rabu (02/05/2012)(Sumber:www.rmol.com/Hayono-Isman-Daripada-Diturunkan-Partai,-Lebih-Baik-Anas-Urbaningrum-Mundur-.html diakses pada 10 Mei 2012).
Sedangkan disisi lain banyak juga yang masih pro terhadap kepemimpinan Anas Urbaningrum dan kader yang mendukung Anas akan berupaya penuh untuk melawan segala upaya politisasi yang menyudutkan Anas Urbaningrum dan hal tersebut seperti penjelasan Ramadhan Pohan bahwa ia akan melawan setiap upaya politisasi yang diarahkan kepada Ketua Umum Anas Urbaningrum yang sengaja atau tak sengaja dilakukan sejumlah pihak. "Kami tidak inginkan terjadi, katakanlah penyudutan ataupun penggiringan isu yang menyudutkan. Kalau itu terjadi, sama saja mengkriminalisasi kader kami. Kami akan melawan terhadap upaya penggiringan kriminalisasi yang berdasarkan opini yang ditiupkan," kata Ramadhan (Sumber:www.metrotvnews.com/Ramadhan-Demokrat-akan-Lawan-Upaya-Politisasi-Anas.html diakses pada 10 Mei 2012)
            Pernyataan Anas inilah yang secara implicit digunakan untuk melakukan konsolidasi dalam tubuh partainya dan bersikap tegas pada kader-kader yang selama ini membelot darinya. Hal itu ditunjukan pasca pernyataan “Gantung di Monas”, Anas melakukan bersih-bersih dengan melakukan Rolling di komisi DPR dan mencopot ketua fraksi Demokrat yaitu Jafar Hafsah.
      c.       Konfirmasi
Pernyataan Anas ini juga mempunyai makna bahwa secara implisit ingin memberikan konfirmasi dan ancaman pada KPK dengan mengatakan “KPK sebenarnya tak perlu repot-repot mengurus persoalan proyek tersebut. Karena asalnya itu kan dari ocehan-ocehan yang tidak jelas, dari karangan-karangan yang tidak jelas," kata dia. "Ngapain repot-repot."  Seperti kita ketahui bersama bahwa Anas adalah ketua umum Partai Demokrat yang menguasai parlemen, perlu diingat bahwa pemilihan pimpinan KPK itu tak lepas dari politik transaksional antara calon pimpinan KPK dan Anggota komisi III yang notabene berasal dari partai politik.
Boleh jadi ketika Anas mengatakan hal ini mempunyai maksud kalau sampai KPK berani memanggil Anas maka hati-hatilah Partai Demokrat siap menggoyang para pimpinan KPK khususnya para pimpinan KPK yang sudah melakukan politik transaksional dengan Partai Demokrat. Dan alhasil sampai sekarang pun Anas aman dan belum dipanggil oleh KPK, meskipun kasus Nazar dalam Wisma Atlit sudah diputus.   
      d.      Agresi
            Agresi inilah maksud implisit yang mungkin ingin disampaikan oleh Anas pada seseorang yang berkantor diseberang Monas. Siapakah orang itu? Tak lain dan tak bukan adalah “Sang Presiden” sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yaitu Susilo Bambang Yudhoyono yang berdiam di Istana Merdeka. Dalam hal ini Anas sepertinya ingin memperingatkan SBY bahwa janganlah sekali-sekali mengusik kursi kepemimpinannya, jelas bahwa Anas bukanlah politisi gadungan yang hanya seumur jagung di dalam Demokrat. Dari tahun 2005-2010, Anas menjadi tangan kanan Hadi Utomo sebagai Ketum Partai Demokrat pada masa itu. Dia selalu mengikuti Agenda Hadi Utomo hingga ke pelosok-pelosok daerah, 
Melihat hal tersebut jelas bahwa Anas bukanlah kader biasa karena tentunya dia sudah mengetahui “Kartu Truf”  Partai Demokrat, khususnya SBY dan dinasti politiknya. Sebagai Sang Penentu, SBY menjadi sulit menentukan manakala keputusan dan langkahnya bisa membahayakan diri sendiri (dan putranya), membahayakan partai, dan menerjal-curamkan jalan menuju 2014. Memberi Anas sanksi terlalu segera dan keras bisa seperti menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Walhasil, Ketua Dewan Pembina yang terkenal sangat berhati-hati itu kali ini merasa harus amat sangat berhati-hati dan keputusan pun tak kunjung jatuh.
      C.    Kesimpulan
Dari hal di atas dapat ditarik kesimpulan umum yaitu bahwa konflik batin atau psikologis pasti pernah dirasakan oleh semua manusia. Ada banyak hal yang kemudian diekspresikan oleh seseorang ketika dia mengalami konflik psikologis tersebut misalnya bisa mengeluarkan pernyataan yang eksplisit atau pun implisit yang ditujukan pada pihak yang berkonflik.
       D.    Daftar Pustaka 
-Bernard, Raho. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
-Walgito, Bimo. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Penerbit Andi
-http://www.tempo.co/read/news/2012/03/09/063389120/3-Kali-Ekspose-Anas-Akan-Diperiksa-Soal-Hambalang diakses pada tanggal 10 Mei 2012.)
-www.rmol.com/Hayono-Isman-Daripada-Diturunkan-Partai,-Lebih-Baik-Anas-Urbaningrum-Mundur-.html diakses pada 10 Mei 2012.
-www.rmol.com/Ruhut -Saudaraku-Anas,-Legowolah.html diakses pada 10 Mei 2012.
- www.metrotvnews.com/Ramadhan-Demokrat-akan-Lawan-Upaya-Politisasi-Anas.html diakses pada tanggal 10 Mei 2012.
-http://benyahya.student.umm.ac.id/2010/07/09/teori-konflik/ diakses pada tanggal 10 Mei 2012.
-http://www.tempo.co/read/news/2012/03/09/063389120/3-Kali-Ekspose-Anas-Akan-Diperiksa-Soal-Hambalang diakses pada tanggal 10 Mei 2012.
-Mata Kuliah Konflik dan Resolusi tantang Teori Konflik di Magister Ilmu Politik UNDIP. Dosen Pengampu Dr. ARI PRADHANAWATI,MS Diberikan pada 05/05/2012.
-Mata Kuliah Psikologi Politik tentang Konflik Dan Keamanan Internasional Jurusan Ilmu Pemerintahan UNDIP. Dosen Pengampu Lusia Astrika, S.IP, M.Si

Tidak ada komentar:

Posting Komentar